@dayat_sekarang
Kios kecil trotoar jalan
pukul 11.00 malam. Hujan baru saja reda, meski gerimis tampak masih menetes
membasahi atap kios di trotoar jalan. Lampu-lampu berkerlipan seolah membisu,
tanpa kata, tanpa suara, ketika malam yang dingin menyelimuti kota yang basah, hampa,
sehampa suasana yang ada di pinggir jalan itu.
Trotoar jalan,, tepat
disebrang minimarket terlihat sebuah kios yang tampak seperti mau roboh,
mungkin karena kios ini sudah lama tidak digunakan lagi oleh pemiliknya. Sementara
diseberangnya terdengar suara riuh rendah dari beberapa orang didepan
minimarket yang lataknya tepat di pinggir jalan raya, mereka memanfaatkannya
untuk berteduh dari guyuran hujan yang baru saja reda.
Malam semakin larut,
mereka yang tadi berteduh satu per satu mulai pergi, kembali melanjutkan perjalanan
yang sempat tertahan oleh hujan. Suasana terlihat sepi, waktunya minimarket tutup.
Beberapa saat kemudian kios dan minimarketpun kembali kedalam kesunyian malam
yang meredup.
“Kamu belum tidur kan?”
Tanya minimarket pada kios.Tak ada respon dari kios, wajahnya tampak murung.
“Kenapa diam saja, kenapa
murung?” tanya minimarket lagi.
“Hmmmmmmm………” hanya itu
suara yang keluar dari kios.
“Kenapa? Kamu terlihat
sedang bersedih,” kembali minimarket bertanya.
“Kamu dan teman-temanmu
sih enak masih bisa terus dikunjungi, melayani banyak orang. Kalau aku dan
teman-temanku, sudah dianggap kalah dari kamu dan teman-temanmu, dianggap
mengganggu trotoar, dianggap ketinggalan zaman,” ujar kios dengan nada sedikit
emosi.
“Oh….jadi itu
permasalahannya. Tenaaang…tenaang…jangan emosi,” sahut minimarket.
“Gimana aku bisa tenang,
kamu enak aja kalau ngomong. Teman-temanku dibeberapa tempat sudah diangkut
oleh satpol pp, aku tinggal menunggu giliran, entah akan berakhir dimana. Oh
nasiiiiib….nasiib,” ucap kios dengan suara memelas.
“Tapi kamu memang sudah
kalah dari aku. Pemilikmu pun sudah tidak sanggup lagi bersaing dengan
pemilikku, biar aku dan teman-temanku saja yang melayani mereka para pembeli,
lagi pula kamu dan teman-temanmu memang menggangu trotoar” kata minimarket.
“Pemiliku memang sudah
tidak sanggup bersaing dengan pemilikmu, tapi aku dan teman-temanku masih mau
melayani mereka para pembeli, lagi pula pemiliku dan pemilik teman-temanku
sebenarnya masih sanggup bersaing, jika saja pemerintah membatasi populasi kamu
dan teman-temanmu,” tutur kios mengungkapkan uneg-unegnya.
“Kamu tahu, dulu aku
selalu dikunjungi banyak orang. Macam-macam orang, dari pengayuh becak, supir
angkot, sampai orang kantoran, mahasiswa juga ada,” tambah kios.
Lantas kios pun mengenang
masa-masa kejayaannya. Mereka ramai berbicang, sambil menunggu pagi. Namun
semua itu sudah lama berlalu. Kini, dia harus menerima nasib setelah pemerintah
dengan mudahnya mengeluarkan izin untuk mendirikan minimarket, sehingga
dibanyak tempat ada minimarket yang saling berdekatan, ada juga yang saling
berhadapan. Kios-kios pun dianggap menggagu trotoar. Teman-temannya sudah
banyak yang digusur, dia tinggal menunggu giliran.
“Hey…!!! Kenapa jadi
melamun, kamu nggak apa-apa kan?” seru minimarket mengejutkan kios, lamunannya
pun terputus, dia menghela nafas panjang.
“Sudahlah kawan, jasamu
sudah begitu besar untuk pemilikmu dan para pembeli. Harusnya kamu bangga,
telah banyak berjasa, sekarang waktunya kamu istirahat, biarkan sekarang
waktunya kami yang berjasa’” tutur minimarket berusaha menghibur.
“Jasa apa?! Kamu memang
lebih dari aku, hampir semua yang orang-orang butuhkan ada dikamu. Tapi kamu
harus ingat, pemilikmu itu orang kaya! Sedangkan pemiliku hidupnya hanya
berharap nafkah dari usahaku, belum lagi mereka yang menitipkan barang
dagangannya kepadaku, mereka yang dibiayai sekolahnya dariku. Apa kamu lupa!
Kemana mereka sekarang bergantung!“ Kembali kios emosi, kali ini lebih emosi
dari sebelumnya.
“Ma...maaf, aku lupa,”
kata minimarket dengan suara lirih.
“Kasihan mereka,” ujar kios,
sambil mengatur nafasnya yang memburu karna menahan marah.
“Yaa… aturannya kan sudah
begitu. Aku juga cuma jalanin aja,” ucap minimarket.
“Aku juga sebenarnya cuma
jalanin, pasrah aja, mau gimana lagi,” sahut kios.
“ya...sudah...sudah…terus
sekarang kita harus gimana nih?” Tanya minimarket
“Kamu kan masih sering
dikunjungi orang-orang pemerintahan juga tuh, mungkin saja suaramu bisa
didengar. Usulkan supaya aku diberikan tempat, atau berikan pemilikku pekerjaan
yang lain dan juga buat aturan tentang populasi kamu dan teman-temanmu. Kasihan
keluarga pemilikku dan mereka yang menitipkan dagangannya kepadaku,”jelas kios
diakhiri dengan senyuman.
“Memang kamu masih kuat?”
Tanya minimarket.
“Masih…sudahlah cepat
besok kau usulkan ya,” pinta kios.
“yah, aku usahakan,” kata
minimarket.
“Janji ya.” Tanya kios,
sambil tersenyum.
“Iya...iya…” jawab
minimarket, sambil membalas senyum.
“Ya udah, sekarang kamu
istirahat aja dulu. Besok pagi kan kamu udah harus bekerja lagi. Kamu tidur
saja, lumayankan biar sebentar juga. Oh iya, maaf ya tadi aku sempet
marah-marah” kata kios menyuruh minimarket sekaligus meminta maaf.
“Iya…aku
juga minta maaf ya. Terus kamu sendiri, mau ngapain?,” Tanya minimarket.
“Aku sih gampang, aku kan
pengangguran, hehehe” sahut kios, sambil tertawa kecil
“Oke deh. Sampai jumpa
besok pagi, selamat malam” ucap minimarket
Trotoar pun kembali
berselimut senyap dan dingin pun kembali mendekap.
Sepertiga malam, Oktober 2013.