Konflik di antara kita,
dengan alasan apapun sepertinya belum akan terhenti. Konflik itu, mungkin
bersumber pada politik yang mungkin saja di dasari oleh adanya kepentingan
pribadi maupun kepentingan kelompok. Mengapa bisa seperti itu dan apa
penyebabnya?
Seperti kita semua ketahui, bahwa
bangsa Indonesia ini, dikenal sebagai bangsa yang “jamak”. Dan ternyata “jamak”
dalam hal apa saja, dari sekedar etnis, agama, budaya sampai dengan jamak dalam
hal politik. Perlukah kita se “jamak” itu? Mungkin jamak dari aspek etnis,
budaya, agama, memang tidak bisa dihindarkan. Tetapi seharusnya itulah nikmat
yang harus kita syukuri, dan sebenarnya apa bila semua itu bisa di kelola
dengan baik, maka itu akan menjadi potensi yang luar biasa bagi negeri ini.
Lalu bagaimana “jamak” dari segi politik? Inilah yang mungkin seharusnya perlu
kita pertanyakan. Apakah kita perlu begitu jamak dari segi politik?
Mungkin kita setuju bahwa dalam
politik, kita seharusnya tidak perlu se “jamak” seperti sekarang ini. Kita
seharusnya tidak perlu jumlah partai yang demikian banyak. Kita juga tidak
perlu dengan partai islam yang demikian banyak. Mengapa demikian? Selain tidak
efektif dan tidak juga efisien, hal tersebut
juga merupakan salah satu sumber konflik yang tiada henti dan berbahaya
untuk bangsa ini. Karena, konflik politik akan selalu ada di dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Bukankah kita semua sudah sepakat
dengan Pancasila? Bukankah kita semua sudah sepakat dengan “Bhineka Tunggal
Ika”? seandainya saja kita benar-benar sudah sepakat dengan dasar-dasar Negara
kita, yang menjadi falsafah hidup kita bersama, mengapa kita menjadi begitu
“jamak” dalam aspek politik? sepertinya, justru para pemimpin-pemimpin kitalah
yang membuat kita menjadi begitu “jamak” dari segi politik.
Ada sebagian banyak dari kita yang
tidak puas dengan keberadaan partai yang sudah terlebih dahulu ada. Ketidak puasan
inilah yang ternyata menyebabkan beberapa kalangan untuk mendirikan sebuah
partai baru, selain hal tersebut masih banyak hal-hal yang lain yang menjadi
indikasi terbentuknya partai-partai baru di negeri ini.
Ada beberapa hal yang
mengakibatkan terbentuknya partai-partai baru di Indonesia ini, yaitu
mentalitas yang kurang baik dari mereka-mereka yang merasa dirinya paling benar,
paling hebat, paling berkuasa, dan paling suci sehingga bisa mendirikan partai
baru. Kemudian hanya menjadikan partai sebagai sebuah tujuan atau
kepentingan-kepentingan perseorangan maupun kepentingan-kepentingan sebuah
kelompok saja, bukan digunakan sebagai sarana untuk tujuan bersama, contohnya (menginginkan
jabatan yang lebih, menjadi penguasa, atau mungkin materil yang lebih, seperti
yang kita ketahui bahwa dunia politik adalah dunia uang). Hal tersebut
merupakan niatan yang sangat salah untuk mendirikan sebuah partai politik.
Banyak partai-partai yang berbasis
islam tumbuh di negeri ini. Mengapa demikian? Karena ada ketidak puasan dengan
partai islam yang telah ada terlebih dahulu. Banyak partai-partai yang berbasis
nasionalisme. Mengapa? Karena banyak yang tidak puas dengan partai-partai yang
sudah ada terlebih dahulu. Dan seandainya, apabila kalangan yang tidak puas
tersebut adalah mereka yang berasal dari kalangan internal sebuah partai politik,
maka partai itu akan pecah.
Jumlah partai politik di negeri
menjadi banyak. Apakah baik keadaan seperti itu? Mungkin para pemimpin-pemimpin
kita yang terlibat di dalam politik berpikir, bahwa itulah yang di namakan
demokrasi, tidak salah ketika orang mendirikan sebuah partai, memisahkan diri
dari suatu partai ataupun memecah suatu partai politik. Mungkin itulah pendapat
mereka.
Maka dari itu, apakah “jamak” dari
aspek politik itu baik? jawabnya, tidak baik. Sesungguhnya bangsa ini tidak
perlu begitu “jamak” dari aspek politik. Tidak perlu dengan jumlah partai
politik yang begitu banyak. Haruskah di kurangi? Jawabnya tegas “YA”. Dan semua
itu akan terwujud jika kita semua sudah benar-benar memegang teguh “PANCASILA”
sebagai falsafah hidup kita. Apakah mungkin? Kita tunggu jawabannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar